/* Start http://www.cursors-4u.com */ body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/symbols/sym-5/sym463.cur), progress !important;} /* End http://www.cursors-4u.com */ Open Bible

Minggu, 13 Desember 2015

BY GIVING, YOU RECEIVE

K
alimat bernada setengah sinis seperti, " hari gini, mana ada makan siang gratis ?", rasanya cukup akrab terdengar di sekitar kita. Kata kata  seperti itu menandakan bahwa kita hidup di dunia yang serba penuh perhitungan. Apapun dihitung untung ruginya. Saya membayar makan siangmu, kamu membayar makan malamku. Bukankah hidup ini lebih enteng rasanya kalau kita tidak harus menghitung dan mencatat segalanya?.

Pengalaman hidup saya sendiri membuktikan bahwa hanya dalam memberi saya menerima. Artinya ketika saya memberi dengan tulus dan ikhlas, apakah itu materi, waktu, perhatian, maupun turut  mendoakan, maka saya menerima kebahagiaan yang luar biasa dan tak terukur dengan uang,  karena saya tahu bahwa balasan manusia itu terbatas dan mungkin mengecewakan. Tapi ketika Tuhan memberi, maka itu selalu dalam kelimpahan. Tuhan kita sendiri. 


Jadi, sekeras apapun usaha kita buat mendapatkan kekayaan duniawi tapi kalau Tuhan tidak menyertai maka sia-sialah usaha itu. Karna itu, Allah
mendorong kita untuk lebih banyak mengumpulkan harta surgawi dan kaya dihadapan Allah yang berguna bagi kehidupan mendatang. Cara mengumpulkan harta surgawi adalah hidup sesuai kebenaran Allah. Orang yang hidup demikian pasti hidupnya akan diberkati Allah.





Dengan Memberi, Kita Mendapatkan 




















KENALILAH ALLAH, ENGKAU AKAN BAHAGIA

Aku bukan putri yang terlahir dengan sejuta kebahagiaan. Aku sama dengan kalian semua. Memang hidup bukan hanya ada suka tapi pasti ada duka. Keduanya beriringan, sejak kita terlahir ke dunia hingga kita masuk ke liang lahat. Bukan hidup jika hanya ada suka. Bukan hidup jika hanya ada duka. Hidup adalah suka dan duka.

Sedikit cerita saja, dulu aku sering sekali mengeluh. Kenapa sih aku kayak gini? Kenapa sih Allah nggak adil? Kenapa sih Allah gini? Kenapa sih Allah gitu?. Selalu yang terlontar itu “kenapa Allah...” banyak sekali keluhan yang terlontar dariku. Hidup terasa tidak berwarna, tidak ada warna lain selain hitam dan putih yang mewarnai hidupku. Hidup terasa monotoh dan membosankan. Tetapi semua nya telah berubah.

Ya, semua berubah dan menjadi indah sejak cahayanya menembus ke belantara jiwaku. Seketika itu hitam dan putih pun melebur menjadi jutaan warna dengan segala keakuratan warnanya. Aku tahu, aku tahu apa yang kini kalian rasakan dan apa yang dulu pernah ku rasakan…itulah hati yang kering dari iman, itulah hati yang awam pada Tuhan.

Kenalilah Allah… maka engkau akan mengenal apa itu kehidupan.
KENALI ALLAH, KENALI ALLAH, KENALI ALLAH…

Hanya itu solusi yang bisa kuberikan pada kalian.
Karena cukuplah Allah sebagai sandaranmu maka yakinlah bahwa engkau tak akan terjatuh.
Karena cukuplah Allah tempatmu mengeluh maka yakinlah bahwa Dia mampu mengangkat masalahmu.
Karena cukuplah Allah sebagai penolongmu maka tak perlu ada lagi yang engkau khawatirkan…
Allah itu pengasih, penyayang, dan tak pernah mau menzhalimi hambaNya…
Allah itu senang mendengar engkau meminta, mengadu, memohonkan segala sesuatu…
Maka dari itu Allah senang mendengar hambaNya berdoa…
Jangan khawatir, Allah pasti mendengar setiap detail yang engkau utarakan…
Karena Dialah sebaik-baik pendengar .
Percayalah, Dia tidak akan mau menzhalimi dan menyakiti hambaNya.
Percayalah :)
Karena semakin mengenalNya maka semakin ada cinta  :)
Bukan berarti aku sudah mencintaiNya…
Sampai sekarang pun aku masih meminta untuk diajari olehNya
Bagaimana cara yang benar untuk mencintaiNya

Terkadang kita ini terlalu egois…
Menuntut ini dan menuntut itu pada Allah, sedang kita sendiri tidak suka dituntut oleh aturan-aturan yang Allah buat.
Lihat betapa banyak orang mempertanyakan kenapa harus menutup aurat? Kenapa harus pakai jilbab? Mengganggu hak asasi saja!! Lihat betapa banyak orang yang memberontak dan tidak suka dengan aturan Allah yang melarang hambanya untuk berpacaran…kenapa sih nggak boleh pacaran? Ini kan soal perasaan!! Kenapa kenapa kenapa??

Tapi Allah?? Apa Allah pernah bertanya kenapa kamu meminta bahagia? Kenapa kamu meminta hidup kaya? Kenapa?? Bukankah itu adalah hak-Ku menjadikan kamu bahagia atau menderita. Bukankah itu adalah hak-Ku menjadikan kamu miskin atau kaya. Allah tidak demikian. Allah itu dengan segenap kasih sayangNya menurunkan ayat ini:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. 2: 186)

Lihat bagaimana cara Allah menuturkannya…
Allah terlebih dahulu mengutarakan apa yang akan Dia beri baru mengutarakan apa yang Dia minta dan di jelaskan kembali bahwa apa yang Dia minta tak lain juga untuk kebaikanmu…
Subhanallah :) tidakkah bergidik hatimu mendengar ayat seperti ini?

Itu janji Allah, janji yang tak kan pernah Tuhanmu ingkari :)
Kita ini terlalu kikir…
Setiap apa yang kau punya…setiap apa yang engkau miliki, itu dari Allah datangnya. Itulah pemberian Allah. Pikirkan berapa banyak pemberiannya sejak kita lahir ke dunia. Ketika engkau merasa bahagia memiliki orangtua yang begitu menyayangimu, ingatlah itu dari Allah datangnya. Dari Allah yang begitu memperhatikan kebahagiaanmu, hingga Dia mengirimkan orangtua untuk mendampingi liku-liku hidupmu di dunia. Pernahkah kau mensyukurinya? Sadarkah engkau bahwa itu salah satu bentuk kasih sayangNya??

Namun, entah begitu sering kita memandang pemberiannya dengan sebelah mata. Begitu sering kita lupa membaca hamdalah. Bahkan lupa kalau ini adalah pemberianNya. Astaghfirullah.
Pikirkan ini, ketika Allah senantiasa mencurahkan nikmatNya…kita lupa bersyukur. Namun, ketika Allah hanya mencabut satu nikmat yang kita tengah rasakan, kita meraung-raung…menyalahkan-Nya. Kenapa ya Allah kenapa? Apa salahku ya Allah?

Iringilah hidup kita dengan istighfar dan hamdalah
Karena memang tiap detik kita menikmati pemberiannya namun seringkali kita bermaksiat padanya.
“Alhamdulillah astaghfirullah”
Semoga kalian semua ingin mengenal Allah, Tuhan kita semua.

KENALILAH TUHANMU, MAKA AKAN DIPERMUDAH KEHIDUPANMU



Minggu, 08 November 2015

KEDAMAIAN ANTAR AGAMA


Saat ini banyak sekali pertengkaran seperti tawuran. Antara lain, permasalahannya adalah tentang agama. banyak sekali orang yang saling menghina agama lain. Seperti Islam dihina, Kristen dihina, Budha dihina, Katolik dihina, Hindu dihina, dll. coba deh kita berfikir sejenak! Apasih gunanya kita menghina agama lain? apa manfaatnya? apakah dengan menghina kita mendapatkan pahala? apakah dengan menghina agama lain kita mendapat hadiah? Tidak kan. Yang ada kita hanya mendapat kerugian. Seperti luka-luka, bahkan meninggal. Dan yang paling penting menambah dosa, dan membuat Tuhan sedih.  

Saya pernah membaca sebuah artikel orang yang berisi bahwa, pemilik artikel ini menceritakan seseorang yang tidak menyukai agama orang lain dan membangga-banggakan agamanya yang menurut dia paling benar. Dia membakar Al-Quran milik umat Muslim. 




Begitu juga kitab suci umat Kristiani juga ia bakar. Dia beranggapan tidak ada agama yang benar kecuali agamanya sendiri. Hal seperti inilah yang akan membuat kita semua tidak menghargai kepercayaan orang lain. Dan hal seperti inilah yang akan merusak kedamaian antar umat beragama yang seharusnya kita semua bergandeng tangan untuk membentuk suatu masyarakat yang sejahtera. 
Faktor yang menyebabkan konflik tersebut, yaitu:
  1. Kurangnya rasa menghormati antar agama.
  2. kurangnya komunikasi sehingga menimbulkan salah paham
  3. Adanya tujuan tertentu yang menjadikan munculnya konflik
Beberapa hal untuk menghindari konflik, yaitu:
  1. Melibatkan pemeluk agama lain dalam kegiatan sosial
  2. Menjauhi sifat egois
  3. Pembinaan individu
  4. Saling membantu
  5. Saling menghargai agama lain
Upaya untuk mengantisipasi konflik:
  1. Mempererat persahabatan antar agama dengan saling mengenal lebih jauh, serta menumbuhkan kembali kesadaran bahwa setiap agama membawa misi kedamaian
  2. Masyarakat pendatang dan penduduk asli juga harus berbaur atau membaur atau dibaurkan
  3. Segala macam bentuk ketidakadilan struktur agama harus dihilangkan atau diminimalkan
  4. Kesenjangan sosial dalam hal agama harus dibuat seminimal mungkin, dan sebisanya dihapuskan sama sekali.


Disini saya ada sebuah projek kebaikan yaitu membantu belajar anak-anak SD. Saya dan teman-teman saya mengajari mereka dengan senang hati, tanpa ada rasa terbebani. Walaupun kita semua berebeda agama, ras, dan suku, tetapi kita tidak memandang itu karena pedoman saya sendiri yaitu satu kebaikan untuk berdamai. Jadi apapun agamanya, apapun ras dan sukunya saya tidak menjadi penghalang bagi saya untuk berbuat kebaikan untuk semua orang dan untuk kedamaian dunia ini.


TIDAK PENTING APA LATAR BELAKANGMU, KALAU KAMU BISA MELAKUKAN YANG LEBIH BAIK UNTUK SEMUA ORANG, ORANG TIDAK AKAN TANYA APA AGAMAMU, APA SUKUMU, APA LATAR BELAKANGMU

Rabu, 28 Oktober 2015

SATU UNTUK SEMUA




SATU UNTUK SEMUA

Pada dasarnya semua agama mengajarkan keyakinan bahwa : Tuhan adalah yang menciptakan semesta alam dan seisinya. Tuhan adalah yang menghidupi semua makhluk hidup. Tuhan adalah yang berkuasa atas semesta alam dan semua makhluk hidup. Tuhan adalah yang menjadi penyembahan dan pemujaan semua umat manusia. Tuhan adalah Yang Maha Esa. Khusus di Indonesia semua agama sepakat dengan butir kelima yang menjadi sila pertama dari Pancasila yaitu KeTuhanan Yang Maha Esa. Akan tetapi apakah masing-masing umat beragama memahami bahwa Tuhannya berbeda dengan Tuhan umat beragama lain? Jawabannya perlu pembahasan dibawah ini.

Perbedaan Bahasa

Masing-masing bangsa (umat) menyebut Tuhan sesuai dengan bahasanya, seperti: Yahudi menyebut dengan nama Yahweh, Arab dengan nama Allah, Hindia - Brahman, Inggris - God, Yunani - Deo, Bali - Sang Hyang Widhi, Sunda ada yang menyebut Gusti, Jawa dengan berbagai sebutan seperti Pangeran, Hyang Manon, Hyang Widhi, Suksma Kawekas, dll. Termasuk bangsa bangsa lain diseluruh dunia ini menyebut sesuai dengan bahasanya.

Pertanyaannya adalah apakah kalau sebutannya berbeda, dapat dikatakan Tuhannya juga berbeda? Jawabannya perlu uraian dibawah ini.



Umat beragama di dunia ini terutama yang berakal sehat, berpendapat bahwa meskipun berbeda agama, Tuhan tetap sama, karena keyakinan. Perbedaan hanya karena bahasa atau sebutannya saja.

Namun ada sebagian umat agama tertentu yang berpendapat bahwa Tuhan yang benar adalah yang sesuai dengan bahasanya atau sebutannya. Dinyatakan bahwa Tuhan yang benar adalah yang sebutannya A, kalau sebutannya B, D, G, H, S dan Y maka itu Tuhan yang salah. Pertanyaannya adalah bagaimana Tuhan Yang Maha Esa, yang memiliki semesta alam seisinya termasuk seluruh bahasa didunia ini, menyikapi pernyataan agama tertentu tersebut?

Tuhan Yang Maha Luhur dan Maha Kasih, sumber segala ilmu lahir dan batin, yang mengatur setiap kejadian seperti kejadian adanya berbagai agama dan berbagai bahasa di dunia ini, pastinya menerima seluruh umat manusia yang menganut berbagai agama dan menggunakan berbagai bahasa dengan tanpa pilih kasih. Ibarat seorang ibu yang memiliki banyak anak, tidak akan membeda bedakan kasih sayangnya meskipun ada salah satu anaknya yang merasa paling benar dan menganggap saudara saudaranya salah. Apalagi Tuhan yang memiliki berbagai umat dunia ini sebagai anak anakNya, tidak akan membeda bedakan satu sama lain, meskipun ada salah satu anakNya yang merasa paling baik. Tuhan Yang Maha Mulia tentu juga tidak terprovokasi oleh yang suka menjelek jelekkan saudara saudaranya. Tapi Tuhan Maha Pengampun, maka mengampuni anakNya yang satu itu, maklum dulu lahir ditempat yang gersang dan panas sehingga bertemperamen keras. Akan tetapi Tuhan juga Maha Adil, maka anakNya yang paling berbakti mendapatkan anugerah berupa kelebihan dari pada yang lain, seperti kecerdasan, kecakapan, ketrampilan, dll kemampuan.

Jadi kesimpulannya Tuhan Yang Maha Esa ini tetap menjadi Tuhannya berbagai agama yang masing masing bisa saja menyebutNya dengan bahasa yang berbeda. Sebab Tuhan hanya ada satu, Dia tidak dilahirkan dan juga tidak melahirkan.






YESI KURNIA DEWI
NIM: 15.E1.0147

Dosen Pembimbing: GREGORIUS DARU W